PSIKOTERAPI
1. Perbedaan antara Psikoterapi dan
Konseling
Konseling
adalah hubungan pada mana seseorang berusaha membantu orang lain untuk memahami
dan memecahkan masalah penyesuaian (English & English, 1958). Sedangkan
psikoterapi adalah Bentuk khusus dari
interaksi antara dua orang, pasien dan terapis kemudian pasien memulai
interaksi karena pasien mencari bantuan psikologik dan terapis menyusun
interaksi dengan menggunakan dasar psikologik.
Menurut
Blocher (1966) yang membedakan konseling dengan psikoterapi sebagai berikut :
a.
Klien adalah klien bukan pasien, di psikoterapi seseorang yang
membutuhkan pengobatan disebut pasien
b.
Klien dipandang sebagai seseorang yang mampu memilih tujuan-
tujuannya,
sedangkan pasien digolongkan sebagai penderita penyakit jiwa
Menurut
Pallone (1977) & Patterson (1973) Perbedaan antara konseling dan
psikoterapi adalah sebagai berikut :
Konseling
untuk : a. Klien
b.
Gangguan yang kurang serius
c.
Masalah, jabatan, pendidikan
d.
Berhubungan dengan pencegahan
e.
lingkungan pendidikan dan nonmedis
f.
Berhubungan dengan kesadaran
g.
metode penelitian
Psikoterapi untuk : a.
Pasien
b. Gangguan yang serius
c. Masalah kepribadian dan pengambilan
keputusan
d. Berhubungan dengan penyembuhan
e. Lingkungan medis
f. Berhubungan dengan ketidaksadaran
g. Metode penyembuhan
2. Bentuk-bentuk Utama dari Psikoterapi
Psikoterapi
menurut Phares (dalam Markam, 2007) dibedakan menjadi dua aspek, yaitu menurut
taraf kedalamannya dan menurut tujuannya. Menurut kedalamannya dibedakan
psikoterapi suportif, psikoterapi reedukatif, dan psikoterapi rekonstruktif.
A.
Psikoterapi Suportif
Psikoterapi
suportif digunakan untuk memberikan dukungan pada
klien
agar bisa bertahan menghadapi kesulitannya. Psikoterapi memiliki tujuan yakni :
untuk memperkuat perilaku penyesuaian diri klien yang sudah baik, memberi
dukungan psikologis dan menghindari diri dari usaha untuk menggali apa yang ada
dalam alam bawah sadar klien. Alasan penghindaran karena kalau akan “dibongkar”
ketidaksadarannya, klien ini mungkin akan menjadi lebih parah dalam penyesuaian
dirinya.
B. Psikoterapi Reedukatif
Psikoterapi Reedukatif dilakukan pada saat
konseling berlangsung.
Psikoterapi reedukatif memiliki tujuan
yakni : untuk mengubah pikiran atau perasaan klien agar ia dapat berfungsi
lebih efektif. Terapis mengajak klien atau pasien untuk mengkaji ulang
keyakinan kilen, mendidik kembali agar klien dapat menyesuaikan diri lebih baik
setelah mempunyai pemahaman yang baru atas persoalannya. Terapis tidak hanya
membatasi diri membahas kesadaran saja namun juga tidak terlalu menggali
ketidaksadaran.
C. Psikoterapi Rekonstruktif
Psikoterapi Rekonstruktif berkaitan dengan
pendekatan
psikoanalisis dan biasanya berlangsung
intensif dalam waktu yang cukup lama. Psikoterapi rekonstruktif memiliki tujuan
yakni : untuk mengubah seluruh kepribadian pasien atau klien, dengan menggali
ketidaksadaran klien, menganalisis mekanisme defensif yang patologis, memberi
pemahaman akan adanya proses-proses
tak sadar dan seterusnya.
Sumber:
Gunarsa, Singgih D. (1996). Konseling dan Psikoterapi. Jakarta : BPK
Gunung Mulia
Markam, S.L.S., Sumarmo. (2007). Pengantar Psikologi Klinis. Jakarta:
Penerbit Universitas Indonesia (UI-Press)