Jumat, 27 Maret 2015

PSIKOTERAPI 2



PSIKOTERAPI

1. Perbedaan antara Psikoterapi dan Konseling
          Konseling adalah hubungan pada mana seseorang berusaha membantu orang lain untuk memahami dan memecahkan masalah penyesuaian (English & English, 1958). Sedangkan psikoterapi adalah  Bentuk khusus dari interaksi antara dua orang, pasien dan terapis kemudian pasien memulai interaksi karena pasien mencari bantuan psikologik dan terapis menyusun interaksi dengan menggunakan dasar psikologik.
          Menurut Blocher (1966) yang membedakan konseling dengan psikoterapi sebagai berikut :
a. Klien adalah klien bukan pasien, di psikoterapi seseorang yang
membutuhkan pengobatan disebut pasien
          b. Klien dipandang sebagai seseorang yang mampu memilih tujuan-
tujuannya, sedangkan pasien digolongkan sebagai penderita penyakit jiwa
          Menurut Pallone (1977) & Patterson (1973) Perbedaan antara konseling dan psikoterapi adalah sebagai berikut  :
Konseling untuk :  a. Klien
b. Gangguan yang kurang serius
c. Masalah, jabatan, pendidikan
d. Berhubungan dengan pencegahan
e. lingkungan pendidikan dan nonmedis
f. Berhubungan dengan kesadaran
g. metode penelitian
Psikoterapi untuk : a. Pasien
 b. Gangguan yang serius
 c. Masalah kepribadian dan pengambilan keputusan
 d. Berhubungan dengan penyembuhan
 e. Lingkungan medis
 f. Berhubungan dengan ketidaksadaran
 g. Metode penyembuhan

2. Bentuk-bentuk Utama dari Psikoterapi
          Psikoterapi menurut Phares (dalam Markam, 2007) dibedakan menjadi dua aspek, yaitu menurut taraf kedalamannya dan menurut tujuannya. Menurut kedalamannya dibedakan psikoterapi suportif, psikoterapi reedukatif, dan psikoterapi rekonstruktif.
          A. Psikoterapi Suportif
                   Psikoterapi suportif digunakan untuk memberikan dukungan pada
klien agar bisa bertahan menghadapi kesulitannya. Psikoterapi memiliki tujuan yakni : untuk memperkuat perilaku penyesuaian diri klien yang sudah baik, memberi dukungan psikologis dan menghindari diri dari usaha untuk menggali apa yang ada dalam alam bawah sadar klien. Alasan penghindaran karena kalau akan “dibongkar” ketidaksadarannya, klien ini mungkin akan menjadi lebih parah dalam penyesuaian dirinya.
         B. Psikoterapi Reedukatif
                   Psikoterapi Reedukatif dilakukan pada saat konseling berlangsung.
Psikoterapi reedukatif memiliki tujuan yakni : untuk mengubah pikiran atau perasaan klien agar ia dapat berfungsi lebih efektif. Terapis mengajak klien atau pasien untuk mengkaji ulang keyakinan kilen, mendidik kembali agar klien dapat menyesuaikan diri lebih baik setelah mempunyai pemahaman yang baru atas persoalannya. Terapis tidak hanya membatasi diri membahas kesadaran saja namun juga tidak terlalu menggali ketidaksadaran.
         C. Psikoterapi Rekonstruktif
                   Psikoterapi Rekonstruktif berkaitan dengan pendekatan
psikoanalisis dan biasanya berlangsung intensif dalam waktu yang cukup lama. Psikoterapi rekonstruktif memiliki tujuan yakni : untuk mengubah seluruh kepribadian pasien atau klien, dengan menggali ketidaksadaran klien, menganalisis mekanisme defensif yang patologis, memberi pemahaman akan adanya proses-proses
tak sadar dan seterusnya.



Sumber:
Gunarsa, Singgih D. (1996). Konseling dan Psikoterapi. Jakarta : BPK Gunung Mulia

Markam, S.L.S., Sumarmo. (2007). Pengantar Psikologi Klinis. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia (UI-Press)

Jumat, 20 Maret 2015

PSIKOTERAPI



PSIKOTERAPI

1. Pengertian Psikoterapi
          Psikoterapi muncul pada abad pertengahan dan akhir abad lalu. Secara etimologis yakni “ psyhe” yang artinya jiwa dan “ therapy” yang berasaal dari  Bahasa Yunani yang artinya “ merawat ” atau “ mengasuh ”.
          Menurut Watson & Morse (1977), psikoterapi adalah Bentuk khusus interaksi antar pasien dan terapis. Pasien memulai interaksi karena pasien mencari bantuan psikologik dan terapis menyusun interaksi dengan mempergunakan dasar psikologik. Sedangkan menurut Corsini (1989), psikoterapi adalah proses formal interaksi antar dua pihak dengan tujuan memperbaiki keadaan yang tidak menyenangkan pada salah satu dari kedua pihak karena ketidakmampuan salah satu dari bidang-bidang seperti : fungsi kognitif (kelainan pada fungsi berfikir), fungsi afektif (kehidupan emosi yang tidak menyenangkan), fungsi perilaku (ketidaktetapan perilaku), dengan terapis memiliki teori, metode perawatan, dan profesinya diakui resmi untuk bertindak sebagai  terapis.
          Jadi dapat kita simpulkan bahwa, Psikoterapi adalah suatu proses interaksi dimana terdapat dua pihak yang memiliki tujuan atau kepentingan masing-masing, yakni bila dilihat dari segi pasien yang tujuannya adalah ingin mencari bantuan penyembuhan atau pengobatan dengan tenaga psikologik bukan dokter sedangkan dari segi terapis memiliki tujuan yakni memperbaiki keadaan yang tidak menyenangkan yang dirasakan oleh pasien.

2. Tujuan dan Unsur-unsur Psikoterapis
          Dua tokoh yakni Ivey, et al (1987) dan Corey (1991) memiliki beberapa ulasan tentang tujuan psikoterapi yakni sebagai berikut :
          A. Menurut Ivey, et al (1987) dilihat dari pendekatan psikodinamik
adalah membuat suatu yang tidak sadar menjadi sesuatu yang disadari. Rekonstruksi kepribadiannya dilakukan terhadap kejadian-kejadian yang sudah lewat dan menyusun sintesis yang baru dari konflik-konflik yang lama.
Menurut Corey (1991) dilihat dari pendekatan psikodinamik adalah membuat sesuatu yang tidak sadar menjadi sesuatu yang disadari. Dengan kata llain membantu klien dalam menghidupkan kembali pengalaman-pengalaman yang sudah ia lewati dan bekerja melalui konflik-konflik yang ditekan melalui pemahaman intelektual.
          B. Menurut Ivey, et al (1987) dari pendekatan Rogerian terpusa pada
pribadi yakni untuk memberikan jalan pada seseorang yang memiliki suatu potensi dengan cara ia menemukan sendiri arahnya secara wajar dan mengeksplorasi emosi yang majemuk serta memberi jalan bagi pertumbuhan dirinya yang unik.
Menurut Corey (1991) dilihat dari pendekatan terpusat pada pribadi adalah untuk memberikan suasana aman agar klien mengeksplorasi diri sehingga ia bisa mengetahui hal yang bisa mencegah pertumbuhannya dan bisa mengetahui aspek dirinya sebelumnya.
          C. Menurut Ivey, et al (1987) dilihat dari pendekatan ekesistensialistik-
humanistik adalah menemukan arti dan melakukan tindakan. Menyadarkan akan hal yang asasi pada manusia agar mencapai kematangan pada tujuan-tujuan hidupnya.
Menurut Corey (1991) dilihat dari pendekatan terapi eksistensialistik adalah untuk membantu mengetahui bahwa seseorang mempunyai kebebasan dan menyadari akan kemungkinan-kemungkinan yang dimiliki.
          D. Menurut Ivey, et al (1987) dari pendekatan behavioristik adalah untuk
menghilangkan kesalahan dalam belajar dan berperilaku dan menganti dengan pola-pola perilaku yang lebih bisa menyesuaikan.
Menurut Corey (1991) dilihat dari pendekatan terapi perilaku adalah untuk menghilangkan perilaku  yang malasuai agar berperilaku lebih efektif.

          E. Menurut Ivey, et al(1987) dari terapi kognitif behavioristik ialah
menghilangkan cara berfikir yang menyalahkan diri sendiri dan toleran terhadap diri sendiri dan orang lain.
Menurut Corey (1991) dari terapi kognitif-behavioristik ialah meghilangkan cara memandang dalam kehidupan pasien dan membantunya memperoleh pandangan dalam hidup untuk memecahkan masalah emosi dan perilaku dalam kehidupan selanjutnya.
          F. Menurut Ivey, et al (1987) dari metode teknik Gestalt yakni lebih
menyadari seseorang mengenai kehidupannya dan bertanggung jawab terhadap arah kehidupan seseorang.
Menurut Corey (1991) dari metode teknik Gestalt yakni membantu memperoleh pemahaman mengenai saat-saat dari pengalaman klien.
         G. Menurut Ivey, et al (1987) dari pendekatan terapi realitas ialah untuk
memenuhi kebutuhan seseorang tanpa di campur-tangani orang lain dan untuk bertindak dengan menyadari sepenuhnya akan akibat-akibatnya.
Menurut Corey (1991) dari pendekatan terapi realitas ialah untuk membantu merangsang seseorang menilai apa yang sedang dilakukan dan memeriksa seberapa jauh tindakannya berhasil.

3. Unsur-unsur Psikoterapi
         Menurut Masserman terdapat delapan parameter pengaruh dasar yang dapat mencakup unsur-unsur pada semua jenis psikoterapi, yaitu :
                   a. Peran sosial
         b. Hubungan
         c. Hak
         d. Retropreksi
         e. Reduksi
         f. Rehabilitasi, memprbaiki gangguan perilaku berat
         g. Resosialisasi
         h. Rekapitulasi


SUMBER :
Gunarsa, Singgih D. (1996). Konseling dan psikoterapi. Jakarta : BPK Gunung Mulia.

Maulany, R.F (1997). Buku Saku Psikiatri: Residen Bagian Psikiatri UCLA. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.