Senin, 01 Juni 2015

TUGAS PSIKOTERAPI


RATIONAL EMOTIVE THERAPY (ELLIS)

A. Konsep Terapi
           Diperkenalkan oleh Albert Ellis yang lahir pada tanggal 27 September 1913 di Pittsburgh, Pennsylvania. Pada  tahun 1961-1962 Ellis bertindak sebagai Ketua dari Division of Consulting Psychology.
          Pandangan Ellis (1980) terhadap konsep manusia adalah :
1. Manusia mengkondisioning diri sendiri terhadap munculnya
perasaan yang mengganggu pribadinya.
2. Kecenderungan biologisnya sama halnya dengan kecenderungan
Kultural untuk berpikir salah dan tidak ada gunanya, berakibat mengecewakan diri sendiri.
3. Kemanusiaan yang unik untuk menemukaan dan mencipta
keyakinan yang salah, yang mengganggu, sama halnya dengan kecenderungan mengecewakan dirinya sendiri karena gangguan-gangguannya.
4. Kemampuannya yang luar biasa untuk mengubah proses-proses
kognitif, emosi, dan perilaku memungkinkan.
          Kehidupan pasien didasari oleh keyakinan dan cara berfikir yang logis, yang rasional. Karena sasaran utama adalah pada aspek kognitifnya, maka hubungan antara terapis dengan pasien tidak terjalin terlalu erat dan mendalam. Mengenai  peran dan kegiatan terapis menurut Ellis ((1973) adalah :
1. Bawalah pasien sampai pada akar persoalannya yang menimbulkan
pikiran tidak rasional dan tidak menimbulkan gangguan pada perilaku.
2. Doronglah pasien agar mengemukakan pikiran-pikirannya.
3. Tunjukkan pada pasien dasar dari cara berfikirnya tidak logis.
4. Pergunakan analisis-logis untuk mengurangi keyakinan-keyakinan
yang tidak rasional.
5. Kemukakan kepada pasien bagaimana keyakinan-keyakinan ini
Tidak jalan dan bagaimana hal tersebut akan menimbulkan gangguan emosi maupun perilaku di kemudian hari.
6. Pergunakan humor atau cara lain yang mungkin dirasakan aneh-
aneh atau bukan-bukan seperlunya, untuk menghadapi cara berfikir pasien yang tidakk rasional.
7. Jelaskan bagaimana pikiran-pikiran ini dapat diganti dengan pikiran
yang lebih rasional dan memiliki dasar empirik yang kuat.
8. Ajarkan pasien bagaimana mempergunakan pendekatan ilmiah
dalam proses berpikirnya, sehingga mereka dapat mengamati dan kemudian mengurangi cara berfikir yang tidak rasional dan logis yang dapat menimbulkan kesulitan dalam dirinya di kemudian hari.
          Dapat diambil kesimpulan bahwa terapi rasional-emotif mempergunakan pendekatan langsung unutk “menyerang” dan menghilangkan pikiran-pikiran yang tidak rasional dan logis. Untuk melakukan ini, terapi perlu mengetahui dunia pasien, mengetahui sikap dan perilakunya yang tidak rasional dan bagaimana pasien melihat hal-hal tersebut. Terapi juga menggunakan pendekatan terapi keluarga (family therapy). Pendekatan ini sangat populer karena efektifitas dan keberhasilannya cukup tinggi.
B. Tujuan terapi Rasional- emotif
          Ellis mengemukakan yang digunakan dalam TRE yang diarahkan pada satu  tujuan utama: “ meminimalkan pandangan yang mengalahkan diri dari pasien dan memabntu pasienn memperoleh filsafat hidup yang lebih realistik.
          TRE mendorong suatu evaluasi filosofis dan idelogis berlandaskan asumsi bahwa masalah-masalah manusia berakar secara filosofis, jadi TRE tidak diarahkan semata-mata kepada penghapusan simtom, melainkan mendorong pasien agar menguji secara kritis nlai-nilai dirinya yang paling dasar.
          Terapi Rational-Emotif berfokus membantu pasien menyadari self-talk yang irasional dan negatif yang merupakan sumber utama dari emosi-emosi yang tidak dikehendaki dan tingkah laku –tingkah laku yang tidak bertanggung jawab.
C. Teknik Terapi
          Ellis berpendapat bahwa kebanyakan orang membutuhkan bantuaan untuk mengatasi pertahanan-pertahanan mereka dan memaksa  mereka untuk menentang respon-respons yang merusak diri mereka sendiri.
          Terapi Rational-Emoif  menggunakan berbagai teknik yang bersifat kognitif, afektif, dan behavioral yang disesuaikan dengan kondisi klien. Berikut beberapa macam teknik yang dipakai sebagai berikut :
1. Teknik- teknik Emotif (afektif)
a. Assertive Training, digunakan untuk melatih, mendorong, dan
membiasakan klienn untuk secara terus-menerus menyesuaikan dirinya dengan perilaku tertentu yang diinginkan.
b. Sosiodrama, digunakan untuk mengekspresikan berbagai jenis
perasaan yang menekan melalui suatu suasana yang didramatisasikan sedemikan rupa sehingga klien dapat secara bebas mengungkapkan dirinya sendiri secara lisan, tulisan, ataupun melalui gerakan-gerakan dramatis.
c. Self Modeling, digunakan untuk meminta klie agar “berjanji” atau
mengadakan “komitmen” dengn konselor untuk menghilangkan perasaan atau perilaku tertentu.
d. Imitasi, digunakan dimana klien diminta untuk menirukan secara
terus menerus suatu model perilaku tertentu dengan maksud menghadapi dan menghilangkan perilakunya sendiri yang negatif.
2. Teknik- teknik Behavioristik
Ini digunakan dengan upaya memodifikasi perilaku-perilaku negatif dari klien dengan mengubah akar-akar keyakinannya yang tak rasional dan tak logis. Beberapa teknni yang termasuk dalam teknik behavioristik:
a. Reinforcement, digunakan untuk mendorong klien ke arah
perilaku yang lebih rasional dan logis  dengan jalan memberikan pujian verbal ataupun hukuman.
b. Social Modeling, digunakan untuk memberikan perilaku-perilaku
baru pada klien.
c. Live Models, digunakan untuk menggambarkan perilaku-perilaku
tertentu, khususnya situasi-situasi interpersonal yang kompleks dalam bentuk percakapan sosial, interaksi dengan memecahkan masalah-masalah.
3. Teknik-teknik Kognitif
Teknik ini bertujuan mendorong klien dan memodifikasi aspek
kognitifnya agar dapat berfikir atau berperilaku sesuai sistem nilai yang diharapkan baik terhadap dirinya sendiri maupun terhadap lingkungannnya. Beberapa teknik kognitif yang cukup dikenal :
a. Home Work Assigments, teknik ini memberikan klien tugas-tugas
rumah untuk melatih, membiasakan diri, dan dapat menuntut pola perilaku yang diharapkan.
b.  Assertive, digunakan untuk melatih keberanian klien dalam
mengekspresikan perilaku-perilaku tertentu yang diharapkan.





SUMBER :
Corey, Gerald. (2007). Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi. Bandung: Refika Aditama.
Gunarsa, Singgih D, Dr., Prof. (2007). Konseling dan Psikterapi. Jakarta: BPK Gunung Mulia
Semiun, Yustinus. (2006). Kesehatan Menntal 3. Yogyakarta: KANSIUS.
Surya, Mohamad, Dr., Prof. (2003). Teori-Teori Konseling. Bandung: Pustaka Bani Quraisy.