RATIONAL EMOTIVE THERAPY (ELLIS)
A. Konsep Terapi
Diperkenalkan oleh Albert Ellis yang lahir
pada tanggal 27 September 1913 di Pittsburgh, Pennsylvania. Pada tahun 1961-1962 Ellis bertindak sebagai Ketua
dari Division of Consulting Psychology.
Pandangan
Ellis (1980) terhadap konsep manusia adalah :
1. Manusia mengkondisioning diri sendiri
terhadap munculnya
perasaan yang
mengganggu pribadinya.
2. Kecenderungan biologisnya sama halnya
dengan kecenderungan
Kultural
untuk berpikir salah dan tidak ada gunanya, berakibat mengecewakan diri
sendiri.
3. Kemanusiaan yang unik untuk
menemukaan dan mencipta
keyakinan
yang salah, yang mengganggu, sama halnya dengan kecenderungan mengecewakan
dirinya sendiri karena gangguan-gangguannya.
4. Kemampuannya yang luar biasa untuk
mengubah proses-proses
kognitif, emosi, dan
perilaku memungkinkan.
Kehidupan
pasien didasari oleh keyakinan dan cara berfikir yang logis, yang rasional.
Karena sasaran utama adalah pada aspek kognitifnya, maka hubungan antara
terapis dengan pasien tidak terjalin terlalu erat dan mendalam. Mengenai peran dan kegiatan terapis menurut Ellis
((1973) adalah :
1. Bawalah pasien sampai pada akar
persoalannya yang menimbulkan
pikiran
tidak rasional dan tidak menimbulkan gangguan pada perilaku.
2. Doronglah pasien agar mengemukakan
pikiran-pikirannya.
3. Tunjukkan pada pasien dasar dari cara
berfikirnya tidak logis.
4. Pergunakan analisis-logis untuk
mengurangi keyakinan-keyakinan
yang tidak rasional.
5. Kemukakan kepada pasien bagaimana
keyakinan-keyakinan ini
Tidak
jalan dan bagaimana hal tersebut akan menimbulkan gangguan emosi maupun
perilaku di kemudian hari.
6. Pergunakan humor atau cara lain yang
mungkin dirasakan aneh-
aneh
atau bukan-bukan seperlunya, untuk menghadapi cara berfikir pasien yang tidakk
rasional.
7. Jelaskan bagaimana pikiran-pikiran
ini dapat diganti dengan pikiran
yang lebih rasional dan
memiliki dasar empirik yang kuat.
8. Ajarkan pasien bagaimana
mempergunakan pendekatan ilmiah
dalam
proses berpikirnya, sehingga mereka dapat mengamati dan kemudian mengurangi
cara berfikir yang tidak rasional dan logis yang dapat menimbulkan kesulitan
dalam dirinya di kemudian hari.
Dapat
diambil kesimpulan bahwa terapi rasional-emotif mempergunakan pendekatan
langsung unutk “menyerang” dan menghilangkan pikiran-pikiran yang tidak
rasional dan logis. Untuk melakukan ini, terapi perlu mengetahui dunia pasien,
mengetahui sikap dan perilakunya yang tidak rasional dan bagaimana pasien
melihat hal-hal tersebut. Terapi juga menggunakan pendekatan terapi keluarga (family therapy). Pendekatan ini sangat
populer karena efektifitas dan keberhasilannya cukup tinggi.
B. Tujuan terapi Rasional- emotif
Ellis
mengemukakan yang digunakan dalam TRE yang diarahkan pada satu tujuan utama: “ meminimalkan pandangan yang
mengalahkan diri dari pasien dan memabntu pasienn memperoleh filsafat hidup
yang lebih realistik.
TRE
mendorong suatu evaluasi filosofis dan idelogis berlandaskan asumsi bahwa
masalah-masalah manusia berakar secara filosofis, jadi TRE tidak diarahkan
semata-mata kepada penghapusan simtom, melainkan mendorong pasien agar menguji
secara kritis nlai-nilai dirinya yang paling dasar.
Terapi
Rational-Emotif berfokus membantu pasien menyadari self-talk yang irasional dan negatif yang merupakan sumber utama
dari emosi-emosi yang tidak dikehendaki dan tingkah laku –tingkah laku yang
tidak bertanggung jawab.
C. Teknik Terapi
Ellis
berpendapat bahwa kebanyakan orang membutuhkan bantuaan untuk mengatasi pertahanan-pertahanan
mereka dan memaksa mereka untuk
menentang respon-respons yang merusak diri mereka sendiri.
Terapi
Rational-Emoif menggunakan berbagai
teknik yang bersifat kognitif, afektif, dan behavioral yang disesuaikan dengan
kondisi klien. Berikut beberapa macam teknik yang dipakai sebagai berikut :
1. Teknik- teknik Emotif (afektif)
a. Assertive Training, digunakan untuk melatih, mendorong, dan
membiasakan
klienn untuk secara terus-menerus menyesuaikan dirinya dengan perilaku tertentu
yang diinginkan.
b. Sosiodrama,
digunakan untuk mengekspresikan berbagai jenis
perasaan
yang menekan melalui suatu suasana yang didramatisasikan sedemikan rupa
sehingga klien dapat secara bebas mengungkapkan dirinya sendiri secara lisan,
tulisan, ataupun melalui gerakan-gerakan dramatis.
c. Self Modeling, digunakan untuk meminta klie agar “berjanji” atau
mengadakan
“komitmen” dengn konselor untuk menghilangkan perasaan atau perilaku tertentu.
d. Imitasi, digunakan
dimana klien diminta untuk menirukan secara
terus
menerus suatu model perilaku tertentu dengan maksud menghadapi dan
menghilangkan perilakunya sendiri yang negatif.
2. Teknik- teknik Behavioristik
Ini
digunakan dengan upaya memodifikasi perilaku-perilaku negatif dari klien dengan
mengubah akar-akar keyakinannya yang tak rasional dan tak logis. Beberapa
teknni yang termasuk dalam teknik behavioristik:
a.
Reinforcement, digunakan untuk
mendorong klien ke arah
perilaku
yang lebih rasional dan logis dengan
jalan memberikan pujian verbal ataupun hukuman.
b.
Social Modeling, digunakan untuk
memberikan perilaku-perilaku
baru pada klien.
c.
Live Models, digunakan untuk
menggambarkan perilaku-perilaku
tertentu,
khususnya situasi-situasi interpersonal yang kompleks dalam bentuk percakapan
sosial, interaksi dengan memecahkan masalah-masalah.
3. Teknik-teknik Kognitif
Teknik ini bertujuan
mendorong klien dan memodifikasi aspek
kognitifnya
agar dapat berfikir atau berperilaku sesuai sistem nilai yang diharapkan baik
terhadap dirinya sendiri maupun terhadap lingkungannnya. Beberapa teknik
kognitif yang cukup dikenal :
a.
Home Work Assigments, teknik ini
memberikan klien tugas-tugas
rumah
untuk melatih, membiasakan diri, dan dapat menuntut pola perilaku yang
diharapkan.
b. Assertive,
digunakan untuk melatih keberanian klien dalam
mengekspresikan perilaku-perilaku tertentu yang
diharapkan.
SUMBER :
Corey, Gerald. (2007). Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi.
Bandung: Refika Aditama.
Gunarsa, Singgih D, Dr., Prof. (2007). Konseling dan Psikterapi. Jakarta: BPK
Gunung Mulia
Semiun, Yustinus. (2006). Kesehatan Menntal 3. Yogyakarta:
KANSIUS.
Surya, Mohamad, Dr., Prof. (2003). Teori-Teori Konseling. Bandung: Pustaka
Bani Quraisy.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar