Ribuan guru honorer melakukan aksi
demo di depan Istana Negara Jalan Medan Merdeka Utara, Kamis (1/5/2014). Mereka
menuntut agar segera diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) tanpa
dilakukan tes. Turunnya guru honorer itu ke jalan karena tak diperhatikan oleh
pemerintah.
Menurut salah satu orator guru
honorer dari wilayah, banyak guru honorer yang telah mengabdi hingga 20 tahun
namun hingga kini belum mendapatkan kesejahteraan,"Ini bentuk perlawanan
kita kepada Presiden," tegasnya. "Apa kata dunia, pemerintah
Indonesia masih melakukan perbudakan terhadap honorer yang mengabdi di lembaga
negara. Honorer hanya digaji Rp 100 ribu perbulan, negara kita kaya tapi
honorernya miskin," tambahnya.
Aksi ini juga dihadiri oleh Camat
Gambir Henri Perez. Dia mengimbau agar demo dapat berjalan tidak anarkis dan
aman. "Semoga melakukan demo dengan suka cita dan tidak anarkis, tetap
hormati negara, semoga sukses," ujar Henri.
Ketua Umum Pengurus
Besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Sulistiyo mengatakan, mereka
akan memperjuangkan aspirasi atas 1,6 juta guru honorer lain mulai jenjang SD,
SMP hingga SMA di Istana Negara. Tuntutan mereka atas tunjangan tambahan maupun
kenaikan status menjadi PNS tidak pernah direalisasikan pemerintah.
Pemerintah pernah berjanji akan
mengangkat 9.000 orang menjadi PNS selambatnya pada 2011/2012 lalu. Tapi
faktanya, sampai saat ini masih banyak guru bantu yang belum juga diangkat
menjadi PNS. "Hanya sebagian kecil yang sudah menjadi PNS.
Bahkan ironisnya, honor
guru bantu senilai Rp1 juta per bulan, sejak Januari lalu hingga kini belum
juga dibayarkan. Mereka sendiri sudah melakukan aksi unjuk rasa ke Kemendikbud
agar status guru bantu segera ditingkatkan menjadi PNS sesuai dengan janji
pemerintah.
Tidak terima dengan
hasil keputusan panitia seleksi nasional (Panselnas) tentang penetapan
kelulusah honorer kategori dua (K2), guru honorer yang tergabung dalam
Perhimpunan Honorer Sekolah Negeri Indonesia (PHSNI) mengancam akan melakukan
aksi demonstrasi. Hanya saja, kali ini ancamannya bukan sekadar demonstrasi
tetapi juga akan bertelanjang sebagai bentuk protes.
PHSNI menganggap aksi
itu akan menjadi salah satu tamparan bagi pemerintah karena tidak konsisten
menjalankan amanat PP 56 Tahun 2012 tentang pengangkatan honorer tertinggal
sebagai CPNS.
"Kami tidak malu
lagi untuk telanjang. Buat apa malu wong pemerintah saja gak malu kok melihat
tenaga pendidiknya tidak sejahtera," kata Soebandi, Ketum PHSNI kepada JPNN, Minggu (16/2)
Soebandi yang menjadi
guru honorer sejak 1996 itu mencontohkan kasus di Jogjakarta. Menurutnya, di
Kota Pelajar itu banyak guru honorer yang berusia kritis malah tidak lulus.
Padahal pemerintah menyatakan bahwa honorer dengan masa pengabdian lama dan
berusia kritis akan mendapatkan perhatian lebih.
"Kami sudah tidak
malu untuk telanjang, karena malu kami sudah tidak ada lagi sejak guru honorer
dibayar dengan upah 50 ribu sampai 200 ribu rupiah per bulan. Guru honorer
wanita malah sering mendapatkan penyiksaan dalam rumah tangga karena biaya
hidup tidak mencukupi sebulannya," beber Soebandi.
Karenanya, PHSNI
mendesak agar permasalahan honorer ini segera dituntaskan sebelum pemerintahan
SBY berakhir.
Sumber :
Tidak ada komentar:
Posting Komentar