Sabtu, 08 November 2014

psikologi manajemen



Psikologi Manajemen
Pengorganisasian Struktur Manajemen

1. Definisi Pengorganisasian

Istilah organisasi berasal dari bahasa Yunani, yaitu “Organon”atau dalam bahasa  Latin “Organum” yang artinya alat, bagian, anggota, atau badan. Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, organisasi adalah kesatuan (susunan) yang terdiri dari atas bagian-bagian orang dalam perkumpulan untuk mencapai tujuan bersama.

Organisasi merupakan sekelompok orang (dua orang atau lebih) yang secara formal dipersatukan dalam suatu kerjasama untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Pengorganisasian merupakan proses penyusunan struktur organisasi yang sesuai dengan tujuan organisasi, sumber daya-sumber daya yang dimilikinya, dan lingkungan yang melingkupinya. Pengorganisasian adalah langkah untuk menetapkan, menggolongkan dan mengatur berbagai macam kegiatan, menetapkan tugas-tugas pokok wewenang dan pendelegasian wewenang oleh pimpinan kepada staf dalam rangka mencapai tujuan organisasi.

 2.     Pengorganisasian sebagai Fungsi Manajemen


Hasil dari pengorganisasian adalah organisasi. Organisasi di pakai sebagai alat oleh manusia untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Ini menekankan pada berhasil atau tidaknya organisasi sebagai alat pencapaian tujuan pada analisis terakhir tergantung pada manusia yang menggerakkannya.


Actuating  Manajemen

1.   Definisi Actuating
Menurut Tery Actuating atau menggerakkan adalah merangsang anggota-anggota kelompok untuk melaksanakan tugas-tugas dengan antusias dan kemauan yang baik. Sedangkan menurut Keith Davis, Actuating adalah kemampuan membujuk orang-orang mencapai tujuan-tujuan yang telah ditetapkan dengan penuh semangat.

2. Pentingnya Actuating
Actuating yang fungsinya menekankan pada kegiatan yang berhubungan langsung dengan orang-orang dalam organisasi. Semua sumber daya manusia yang ada harus dioptimalkan untuk mencapai sebuah visi, misi dan program-program kerja organisasi. Semua SDM harus berkerja semua dengan tugas, fungsi, peran-perannya, dan  kompetensi masing-masing SDM untuk mencapai sebuah visi, misi, dan program kerja organisasi yang telah ditetapkan.

3. Prinsip Actuating 
Menurut Kurniawan (2009) prinsip actuating terbagi menjadi :

     a. Mengusahakan adanya keadilan tanpa pilih kasih

     b. Menanamkan pada manusia keinginan untuk melebihi

     c. Mendorong pertumbuhan dan perkembangan manusia

     d. Memperlakukanpegawai dengan sebaik-baiknya

     e. Menghargai hasil yang baik dan sempurna

 Sedangkan menurut Haris (2011)

      a. Prinsip mengarah pada tujuan

      b. Prinsip keharmonisan dengan tujuan

      c. Prinsip kesatuan komando

Mengendalikan Fungsi Manajemen

1. Definisi Controlling

Kendali atau yang sering disebut pegawasan atau Controlling adalah satu diantara beberapa fungsi manajemen berupa mengadakan penilaian, bila perlu mengadakan koreksi sehingga apa yang dilakukan bawahan dapat diarahkan ke jalan yang benar dengan tujuan yang telah digariskan semula. Controlling atau pengawasan dalam ilmu manajemen adalah proses pengamatan, penentuan, standar yang akan dicapai, menilai pelaksanaan, dan jika perlu mengambil tindakan korektif sehingga pelaksanaan dapat berjalan sesuai dengan rencana yang telah di tetapkan sebelumnya.

Menurut George R. Terry, pengawasan adalah mengawasi apakah gerakan dari organisasi ini sesuai dengan rencana atau belum. Serta mengawasi penggunaan sumber daya dalam organisasi agar bisa terpakai secara efektif dan efisien tanpa ada melenceng dari rencana.

2. Kontrol Sebagai Proses Manajemen 

Dalam prosespengendalian manajemen yang baik sebaiknya formal namun sifat pengendalian informal masih banyak digunakan untuk proses manajemen. Pengendalian formal adalah tahap-tahap yang saling berkaitan antara yang satu dengan yang lainnya. Yang terdiri dari proses :

a. Pemrograman

Dalam tahap ini perusahan akan menentukan program-program yang akan dilaksanakan dan memperkirakan sumber daya yang akan di alokasikan untuk setiap program yang telah di tentukan.


b. Penganggaran

Dalam tahap ini penganggaran, program suatu perusahaan akan di buat lebih rinci. Anggaran ini berdasarkan pada kumpulan anggaran-anggaran dari pusat pertanggung jawaban.


c. Operasi dan Akuntansi

Dalam tahap ini dilaksanakan pencacatan mengenai berbagai sumber daya yang digunakan dan penerimaan-penerimaan yang dihasilkan. Semua cacatan dan biaya-biaya digolongkan sesuai dengan program yang telah ditetapkan dan pusat-pusat tanggung jawabnya. Penggolongan yang sesuai program dipakai untuk dasar pemograman di masa yang akan datang, sedangkan penggolongan yang sesuai dengan pusat tanggung jawab digunakan untuk mengukur kinerja para manajer.


d. Laporan dan Analisis

Tahap ini adalah tahap penting karena menutup suatu siklus dari proses pengendalian manajemen agar data untuk proses pertanggung jawaban akuntasi dapat dikumpulin.
3. Tipe-tipe Kontrol
Ada 4 tipe kontrol dalam pengendalian manajemen, yaitu :

a. Pengendalian dari dalam organisasi (kontrol internal) merupakan pengendalian yang dilakukan oleh aparat pengendalian yang dibentuk dari dalam organisasi itu sendiri. Aparat/unit pengendalian ini bertugas mengumpulkan data dan informasi yang diperlukan oleh pimpinan untuk melihat dan menilai kemajuan atau kemunduran dalam pelaksanaan pekerjaan. Selain itu pimpinan dapat mengambil suatu tindakan korektif terhadap hasil pelaksanaan pekerjaan yang dilakukan oleh bawahannya (internal control).

b. Pengendalian luar organisasi (kontrol eksternal) merupakan pengendalian yang dilakukan oleh Aparat Pengendalian dari luar organisasi terhadap departemen (lembaga pemerintah lainnya) atas nama pemerintah. Selain itu pengawasan dapat pula dilakukan oleh pihak luar yang ditunjuk oleh suatu organisasi untuk minta bantuan pemeriksaan atau pengendalian terhadap organisasinya.

c. Pengendalian preventif adalah pengendalian yang dilakukan sebelum rencana itu dilaksanakan. Maksud pengendalian preventif adalah untuk mencegah terjadinya kekeliruan/kesalahan.

d.Pengendalian represif adalah pengendalian yang dilakukan setelah adanya pelaksanaan pekerjaan. Yang dimaksud dilakukannya pengendalian represif adalah untuk menjamin kelangsungan pelaksanaan pekerjaan agar hasilnya tidak menyimpang dari yang telah direncanakan.


                                                         Motivasi

1. Definisi Motivasi
Motivasi berasal dari bahasa Latin movere yang berarti bergerak atau dalam bahasa inggris to move. Motif diartikan sebagai kekuatan yang terdapat dalam diri organisme yang mendorong untuk berbuat (driving force). Motif saling berkaitan dengan faktor eksternal dan faktor internal. Hal-hal yang mempengaruhi motif disebut motivasi. Motivasi adalah keadaan dalam diri individu atau organisme yang mendorong perilaku ke arah tujuan. Sedangkan menurut Plotnik, motivasi mengacu pada berbagai faktor fisiologi dan psikologi yang menyebabkan seseorang melakukan aktivitas dengan cara yang spesifik pada waktu tertentu.
2. Teori-teori Motivasi
a. Teori kebutuhan

Kebutuhan dapat diartikan sebagai suatu kesenjangan atau pertentangan yang dialami antara suatu kenyataan dengan dorongan yang ada dalam diri. Apabila pegawai kebutuhannya tidak terpenuhi maka pegawai tersebut akan menunjukkan perilaku kecewa. Sebaliknya, jika kebutuhannya terpenuhi maka pegawai tersebut akan memperlihatkan perilaku yang gembira sebagai manifestasi dari rasa puasnya. Kebutuhan merupakan fundamen yang mendasari perilaku pegawai. Abraham Maslow mengemukakan bahwa hierarki kebutuhan Maslow yaitu :

1)Kebutuhan fisiologis

2)Kebutuhan rasa aman

3)Kebutuhan untuk merasa memiliki

4)Kebutuhan akan harga diri

5)Kebutuhan untuk mengaktualisasikan diri.

b. Teori ERG (Esixtance, Relatedness, Growth) dari Alderfer


Teori ERG merupakan refleksi dari nama tiga dasar kebutuhan, yaitu :

1)  Existance needs. Kebutuhan ini berhubungan dengan fisik dari pegawai seperti makan, minum, pakaian, gaji, keamanan, kondisi kerja, fringe benefits.

2) Relatedness needs. Kebutuhan interpersonal yaitu kepuasan dalam berinteraksi dalam lingkungan kerja.

3) Growth needs. Kebutuhan untuk mengembangkan dan meningkatkan pribadi. Hal ini berhubungan dengan kemampuan dan kecakapan pegawai.

c.Teori Insting

Teori motivasi insting berasal dari teori evaluasi Charles Darwin. Darwin berpendapat bahwa tindakan intelligent merupakan refleks dan instingtif yang diwariskan. Oleh karena itu, tidak semua tingkah laku dapat direncanakan sebelumnya dan dikontrol oleh pikiran. McDougall menyusun daftar insting yang berhubungan dengan tingkah laku : terbang, rasa jijik, rasa ingin tahu, kesukaan berkelahi, rasa rendah diri, menyatakan diri, kelahiram, reproduksi, lapar, berkelompok, ketamakan, dan membangun.

d. Teori Drive

Woodworth menggunakan drive sebagai energy yang mendorong suatu organisasi untuk melakukan suatu tindakan. Menurut Hull motivasi seorang pegawai sangat ditentukan oleh kebutuhan dalam dirinya (drive) dan faktor kebiasaan (habit) pengalaman belajar sebelumnya.

e. Teori Lapangan

Teori lapangan merupakan konsep dari Kurt Lewin. Teori ini merupakan pendekatan kognitif untuk mempelajari perilaku dan motivasi. Teori lapangan lebih memfokuskan pada pikiran nyata seorang pegawai ketimbang pada insting atau habit. Kurt Lewin berpendapat bahwa perilaku merupakan suatu fungsi dari lapangan pada momen waktu.
3.Definisi Motivasi Kerja
Motivasi kerja didefinisikan sebagai kondisi yang berpengaruh membangkitkan, mengarahkan dan memelihara perilaku yang berhubungan dengan lingkungan kerja.
Kepuasan Kerja
1. Definisi Kepuasan Kerja
Keith Davis mengemukakan kepuasan kerja adalah perasaan menyokong atau tidak menyokong yang dialami pegawai dalam bekerja. Sedangkan Wexley dan Yuki mendefinisikan kepuasan kerja adalah cara pegawai merasakan dirinya atau pekerjaannya.

Berdasarkan pendapat Keith Davis, Wexley dan Yuki maka kepuasan kerja adalah suatu perasaan yang menyokong atau tidak menyokong diri pegawai yang berhubungan dengan pekerjaannya maupun dengan kondisi dirinya. Perasaan yang berhubungan dengan pekerjaan melibatkan aspek-aspek seperti gaji yang diterima, kesempatan pengembangan karir, hubungan dengan rekan kerja, dan struktur organisasi. Sedangkan yang berhubungan dengan dirinya adalah umur, kondisi kesehatan, kemampuan, pendidikan.

Pegawai akan merasa puas dalam bekerja apabila aspek-aspek pekerjaan dan aspek-aspek dirinya menyokong. Sebaliknya jika aspek-aspek tersebut tidak menyokong maka pegawai akan merasa tidak puas.
2. Aspek-aspek Kepuasan Kerja
Aspek pertama yaitu aspek pekerjaan yang meliputi gaji yang diterima, kesempatan pengembangan karir, hubungan dengan rekan kerja, struktur organisasi, mutu pengawasan, penempatan kerja, dan jenis pekerjaan. Aspek yang kedua yaitu aspek diri meliputi umur, kondisi kesehatan, kemampuan, pendidikan.
3.     Faktor-faktor Penentu Kepuasan Kerja
Ada dua faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja, yaitu faktor yang ada pada diri pegawai dan faktor pekerjaannya.

a. Faktor pegawai, yaitu kecerdasan IQ, kecakapan khusus, umur, jenis kelamin, kondisi fisik, pendidikan, pengalaman kerja, masa kerja, kepribadian, emosi, cara berpikir, persepsi, dan sikap kerja.

b. Faktor pekerjaan, yaitu jenis pekerjaan, struktur organisasi, pangkat (golongan), kedudukan, mutu pengawasan, jaminan finansial, kesempatan promosi jabatan, interaksi sosial, dan hubungan kerja.




Sumber :
Basuki, Heru A.M.(2008). Psikologi Umum. Jakarta : Gunadarma.
widyo.staff.gunadarma.ac.id/…/pengorganisasian+sbg+fungsi.pdf



          Kasus Mengenai Motivasi dan Kepuasan Kerja

Baik-buruknya suatu perusahaan dapat dilihat dari SDM pada perusahaan tersebut. SDM memegang peranan yang sangat penting untuk mencapai tujuan suatu perusahaan, baik itu perusahaan kecil maupun perusahaan besar. Untuk itu, kebutuhan karyawan harus selalu diperhatikan agar mereka memiliki motivasi yang tinggi dalam bekerja sehingga mereka dapat memberikan yang terbaik bagi perusahaan tempat mereka bekerja. Untuk pembahasan lebih lanjut perlu dilakukan suatu penelitian. Penelitian dilakukan di PDAM Tirta Raharja Kabupaten Bandung. Adapun penelitian ini berkaitan dengan hal yang menjadi motivator karyawan dalam bekerja, yaitu salah satunya kompensasi non-finansial. Dari permasalahan tersebut, penulis ingin mengetahui tentang pemberian kompensasi non-finansial dan motivasi kerja pada PDAM Tirta Raharja Kabupaten Bandung. Kemudian akan dicari tahu seberapa besar kompensasi non-finansial mempengaruhi motivasi kerja karyawan. Selanjutnya penulis akan memberikan masukan mengenai upaya-upaya apa saja yang dapat dilakukan dalam hal peningkatan motivasi kerja karyawan PDAM Tirta Raharja Kabupaten Bandung. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah sensus terhadap 55 karyawan PDAM Tirta Raharja Kabupaten Bandung. Kemudian data yang dikumpulkan berupa data primer dan data sekunder. Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode Spearmen Rank. Kemudian dilakukan determinasi untuk mengetahui seberapa besar variabel eksogen (kompensasi non-finansial) mempengaruhi variabel endogen (motivasi kerja). Dari hasil analisis dan penelitian yang dilakukan, diperoleh hasil bahwa pemberian kompensasi non-finansial hampir dilaksanakan sebagaimana mestinya dengan skor rata-rata 76,97%. Sementara untuk motivasi kerja tergolong tinggi dengan angka 77,20%. Untuk pemberian kompensasi non-finansial berpengaruh sebesar 17,06% terhadap motivasi kerja karyawan di PDAM Tirta Raharja Kabupaten Bandung. Sisanya sebesar 82,94% dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak diteliti pada penelitian ini. Kejenuhan pada tugas-tugas yang diberikan akan menjadi pemicu turunnya semangat bekerja. Manajemen PDAM Tirta Raharja dapat mengatasinya dengan kebijakan rotasi pekerjaan. Namun, rotasi pekerjaan yang dilakukan sebaiknya tidak keluar dari bidang pekerjaan yang dikuasai karyawan.
Analisa : Dengan perusahan memperhatikan kesejahteraan pegawainya, membuat sumber daya manusia menjadi lebih baik lagi. Karena seseorang butuh reward dari sesuatu yang dia kerjakan. Dengan perusahaan memperhatikan kesejahteraan pegawainya akan meningkatkan kinerja atau motivasi seorang pegawai dalam bekerja. Saat pegawai mempunyai motivasi tinggi dalam bekerja maka pegawai tersebut akan dapat memberi sesuatu yang dapat memajukan perusahan atau member suatu manfaat bagi perusahaan tersebut.
 Sumber : http://repository.widyatama.ac.id/handle/10364/1056

Tidak ada komentar:

Posting Komentar